Wednesday, March 2, 2011 – Melasti, Goes to Bale Kambang, Malang

Pura Bale Kambang

Pura Bale Kambang

Ah, ternyata sudah pagi..

Gak terasa hari kemarin sudah berlalu. Ya, hari yang menurut saya spesial, karena untuk pertama kalinya saya Melasti ke pantai, hehehe.. Dan lebih spesial lagi, saya melakukannya di Malang, bersama teman2 Hindu dari berbagai kalangan (udah kerja, ada yg masih kuliah, ibu2, bapak2, anak2, hahahaha, spesial untuk Anom, dan Kadek (UB) yang sudah menemani saya selama di perjalanan, dan di Bale Kambang. kwkwk)

Kami berkumpul di Pura Bhuvana Kertha, Singosari terlebih dahulu, melakukan persiapan Melasti dan bersembahyang, untuk selanjutnya bersama – sama berangkat ke Pura Bale Kambang. Perjalanan berjalan lancar, dengan (banyak) efek “gempa”. Hahahaa, ya, kendaraan yang saya tumpangi adalah truk pinjaman dari angkatan darat (kalo gak salah, yg suspensinya, top markotop dah pokoknyaaa… hehehe). Sebagian yang lain menggunakan mobil – mobil pribadinya.

Sesampainya di Bale Kambang, saya sangat kaget, sekaget – kagetnyaa.. kesan pertama dari tempat parkir kendaraan, kami seperti tidak sedang melakukan upacara keagamaan. Lho, kok?

Ya, karena di sana sangat ramai oleh wisatawan yang (sepertinya) sedang liburan. hadaahhh.. pemandangan yang aneh.

Begitu ‘mundut’ dan berjalan ke arah tempat persembahyangan (dan peletakkan “jolen”), baru saya melihat (sangat) banyak umat Hindu yang sudah duduk (tidak rapi) di tempat persembahyangan akan dilangsungkan.. Whoooaa.. amazedddd…!! πŸ˜€

Pemedek, dari berbagai daerah di Malang πŸ™‚

Setelah “jolen” diletakkan di tempat yang telah disediakan, dan kami semua duduk, menunggu “jolen” yang lainnya selesai melakukan hal yg sama. Cukup lama menunggu hingga membuat saya mengantuk, hehehe….

Setelah semuanya selesai, proses persembahyangan segera dilaksanakan. Diawali dengan sambutan dari pejabat2 kab Malang yang terkait. Wahh, saya ingat salah satu ucapan terima kasih yang disampaikan, bahwasanya, upacara Melasti kami ini telah membantu masyarakat daerah Bale Kambang (khususnya para pedagang) karena mendatangkan wisatawan (baik domestik, maupun asing) yang tidak sedikit jumlahnya, dan otomatis -> meningkatnya pendapatan para pedagang tersebut. πŸ™‚

Proses persembahyangan selesai, kami semua membereskan tikar yang kami gunakan sebagai alas, lalu setelah itu bersama – sama menikmati

Nasi Kotak πŸ™‚

Makaaaannn... πŸ™‚

Makaaaannn... πŸ™‚

Diberikan waktu bebas 1.5 jam sebelum kembali ke Pura Bhuvana Kertha, Singosari untuk melaksanakan “Penyineban”. Saya berjalan sejenak di pinggir pantai dan merasakan air pantai yang segar.. Huffhh… pantai yang sangat indah πŸ™‚
*sayang, lumayan panas ketika itu, (masih sekitar jam 2 siang)

adik kecil di pantai πŸ™‚

pasangan mesra di pantai πŸ™‚

Sesampainya di Pura Bhuvana Kertha, kami meletakkan segala macam sarana yg dibawa Melasti tadi, dan menunggu Pemangku selesai mempersiapkan upakara penyineban. Oke, persiapan selesai, dan proses penyineban pun dilaksanakan. Sarana – sarana dikembalikan ke tempatnya masing2.

akan sembahyang, trus balik ke kos πŸ™‚

Acara berikutnya bebas, dan kami memutuskan untuk melakukan persembahyangan terakhir sebelum pulang menuju (rumah atau) kos2an masing2 πŸ˜€

Ya, kemarin sangat bermakna untuk saya.
Terima kasih Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Terima kasih teman – teman.. πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s